Follow by Email

Kamis, 18 Februari 2010

Kekalahan Persib atas Persebaya

Asisten pelatih tim "Maung bandung" Yusuf Bahtiar mengatakan, kekalahan Persib atas Persebaya, Minggu (14/2), disebabkan oleh faktor lapangan.

Yusuf Bahtiar, di Bandung, Senin, mengatakan, hujan deras yang mengguyur Gelora 10 November selama pertandingan Persebaya vs Persib membuat lapangan menjadi tidak bersahabat sehingga mengganggu penampilan para pemain Persib.

"Banyak faktor yang menyebabkan Persib kalah kemarin. Namun, saya rasa faktor lapangan yang becek menjadi kendala utama," kata Yusuf.

Dia mengatakan, para pemain Persib dengan kapasitasnya masing-masing akan terbebani dengan kondisi lapangan yang tidak bersahabat tersebut.

"Para pemain seperti Nova, Eka, Maman rasanya kurang baik jika bermain dengan kondisi lapangan seperti itu. Licinnya bola dan lapangan membuat mereka bermain kurang baik di pertandingan kemarin," kata Yusuf.

Strategi yang sebelumnya diungkapkan pelatih Jaya Hartono, yakni menekan terlebih dahulu pemain Persebaya ternyata tidak berhasil. Justru kebalikannya, Persib ditekan terus-menerus sepanjang pertandingan.

Menurut Yusuf, strategi pelatih tersebut kurang didukung dengan situasi lapangan yang kurang baik.

Yusuf juga mengatakan, secara moril, dendam Persebaya yang kalah di pertandingan sebelumnya 4-2 telah terbalaskan.

"Secara moril, kemenangan Persib atas Persebaya di laga sebelumnya telah terbalaskan dengan kekalahan Persib kali ini," kata dia.

Menurut dia, target pimpinan klasemen Liga super Indonesia menjadi lebih berat dengan kekalahan atas Persebaya kemarin.

"Sayang sekali kita harus kalah kemarin. Tiga poin gagal kita dapatkan. Tapi, untungnya dua laga tandang sebelumnya, kita bisa mencuri enam angka," tambah Yusuf.

Awal mula persahabatan Viking dan Bonek

Melihat sejarah, VIKING dan BONEK adalah pendukung sejati dari klub perserikatan yang sudah menjadi musuh bebuyutan dari sejak jaman perserikatan, yaitu PERSIB dan PERSEBAYA. Dilihat dari kacamata awam, tidak mungkin pendukung sejati yang berani mati demi mendukung timnya bisa bersahabat bahkan bersaudara dengan pendukung sejati yang sama-sama berani mati demi mendukung tim musuh bebuyutan. Tetapi ternyata VIKING dan BONEK membuktikan bahwa mereka bisa. Persaudaraan mereka dilandasi perasaan senasib dimana mereka selalu dijadikan bahan hujatan dan pendiskreditan dari masyarakat sepakbola nasional. Bahkan pers nasional pun paling senang apabila ada kerusuhan di partai yang melibatkan PERSIB atau PERSEBAYA karena bisa dijadikan headline dan sudah jelas pihak mana yang akan disalahkan.

Sejak dulu VIKING dan BONEK diidentikkan dengan kerusuhan. Istilahnya dimana ada pertandingan yang ditonton oleh VIKING atau BONEK maka akan terjadi kerusuhan. Hal-hal jelek dan bersifat mendiskreditkan itulah yang lebih sering diekspos oleh media massa nasional. Padahal tidak semua kegiatan atau kelakuan VIKING dan BONEK berujung pada kerusuhan. Dan tidak semua kerusuhan itu diakibatkan oleh mereka. Mereka hanyalah kaum tertindas yang selalu dipersalahkan karena dosa-dosa di masa lalu. Sangat jarang sekali (atau bahkan tidak pernah?) media massa nasional memberitakan kegiatan positif yang VIKING atau BONEK lakukan. Sangat jauh berbeda dengan pemberitaan media massa nasional tentang pendukung tim lain. Ketika terjadi kerusuhan yang melibatkan mereka hanya ditulis sedikit (atau bahkan tidak ditulis sama sekali?) dan ditutupi dengan kata-kata “oknum yang mengatasnamakan pendukung…”. What a bullshit! Sedangkan ketika melakukan kegiatan positif, media massa nasional langsung memberitakan secara besar-besaran, sebesar berita kerusuhan yang melibatkan VIKING atau BONEK. Bahkan saking terlalu seringnya pemberitaan yang memojokkan VIKING sebagai bobotoh PERSIB, bobotoh lain yang bukan anggota VIKINGpun menjadi antipati terhadap media massa nasional. Sampai ada jargon di kalangan bobotoh bahwa “PERSIB besar bukan karena pemberitaan media massa nasional, PERSIB besar karena bobotoh dan prestasi. PERSIB dan bobotoh tidak membutuhkan media massa nasional untuk menjadi besar. Media massa nasional-lah yang membutuhkan PERSIB untuk menjadi besar dan terkenal”.

Hal itulah yang mungkin menjadi salah satu penyebab munculnya perasaan senasib dan berkembang menjadi ikatan persaudaraan, selain tentunya kerusuhan di Jakarta dimana BONEK yang hendak mendukung PERSEBAYA di Senayan diserang oleh sepasukan organisasi masyarakat (?), yang tidak usah saya sebutkan disini karena semua juga sudah tau, dan kemudian diselamatkan oleh beberapa bobotoh (anggota VIKING) yang kebetulan sedang ada disana. Juga ketika PERSIB melawat ke Surabaya, dimana anggota VIKING yang mendukung PERSIB di sana dijamu sangat baik oleh BONEK. Demikian pula ketika PERSEBAYA yang bertanding di Bandung, giliran BONEK yang dijamu sangat baik oleh VIKING.
Indahnya persaudaraan diantara dua kubu suporter TERBESAR di Indonesia itu. Jadi saat ini BONEK bukan hanya berarti BONDO NEKAT, tapi bisa juga berarti BOBOTOH NEKAD.
Karena VIKING atau BONEK sama saja!

Kedatangan Pemain baru di Persib Bandung, Satoshi Otomo


Tim "Pangeran Biru" kedatangan dua pemain asing pada latihan pertama pascakekalahan melawan Persisam Samarinda. Mereka adalah Satoshi Otomo dari Jepang dan Jeon Byung-euk dari Korea Selatan. Satu lagi adalah pemain yang datang dari Belanda, Irfan Bachdim. Namun, ia memiliki paspor ganda, yaitu Belanda dan Indonesia. Jadi, dikategorikan pemain lokal. Ketiga pemain baru itu berbaur dengan skuad Persib mengikuti sejumlah aktivitas pemanasan dan satu kali babak pertandingan di Stadion Persib, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung. Satoshi Otomo, berasal dari klub sepak bola Gifu FC. Klub tersebut merupakan klub yang berada dalam jajaran divisi dua Liga Jepang di awal tahun 2007. Ketika memasuki musim liga 2008, klub dari pemain berusia 28 ini mampu masuk hingga ke putaran keempat. Sementara pada tahun 2009 hanya mampu melaju hingga babak perempat final. Laki-laki yang saat latihan kemarin mengenakan seragam bernomor punggung 11 mengatakan, dia dibawa seorang agen untuk mengisi kebutuhan Persib sebagai gelandang penyerang. Menurut rencana, pria yang memiliki tinggi 172 cm itu, akan meneruskan proses latihan bersama tim "Pangeran Biru" selama lima hari ke depan. Sementara itu, Jeon Byung-euk (25) merupakan pemain tengah dari Korean Super Red, klub sepak bola komunitas warga Korea Selatan di Singapura. Korean Super Red yang berganti nama menjadi Super FC pada Agustus 2007 berkompetisi di Liga Utama Singapura. Prestasi terakhir yang disabet klub sepak bola itu menduduki peringkat kelima pada kompetisi 2009. Sayangnya, pemain bernomor punggung 21 itu tidak banyak bicara karena kurang fasih berbahasa Inggris. Irfan Bachdim yang lebih dulu menginjakkan kaki di Stadion Persib dibandingkan kedua pemain asing itu, mengaku masih menunggu keputusan manajemen Persib tentang kontraknya. Mantan pemain FC Utrecht dan HFC Haarlem Belanda itu mengakui latihan yang dilakoni, untuk mempertujukan kemampuannya kepada pelatih. Kehadiran ketiga pemain itu, membuat latihan Persib tampak semarak. Tampak juga duo Thailand Kosin dan Suchao, yang dalam waktu segera akan meninggalkan Persib. Selain itu, pemain asing Persib lainnya, Cristian Gonzales, Hilton Moreira, dan Cristian Rene Martinez juga tampak dalam latihan kemarin. Menurut Pelatih Kepala Jaya Hartono, ketiga pemain asing tersebut masih dalam tahap pemantauan. Dia menilai secara teknis dan fisik mereka sudah bagus. "Nomor sebelas (Satoshi) oke, nomor 21 (Euk) juga bagus. Mereka untuk posisi gelandang bertahan. Sedangkan Irfan Bachdim, memiliki teknik memainkan bola yang sudah bagus. Ia tinggal beradaptasi dengan sepak bola Asia saja karena saya lihat dia masih menerapkan pola permainan sepak bola Eropa," kata Jaya. Jaya mengungkapkan, sepak bola Asia itu keras (strength). Apabila Irfan Bachdim siap untuk berubah, peluang untuk bergabung selalu ada. "Persib harus segera menemukan pengganti Suchao sebagai geladang bertahan," ujar Jaya, yang cukup terkesan dengan penampilan Satoshi ketika latihan. Nantikan pertandingan antara Persib vs Persebaya hari ini.

Perpisahan kiper Persib Bandung, Kosin


Perpisahan kiper kebanggaan Bobotoh Sinthaweechai 'Kosin' Hatthairatanakool berlangsung haru. Acara perpisahan digelar, Kamis (18/02/2010) di sebuah kafe di Jalan Lengkong, Kota Bandung.

Hadir dalam acara perpisahan hampir seluruh skuad Persib Bandung, jajaran manajemen, komisaris serta pelatih. Meski sudah dilangsungkan acara perpisahan, namun Kosin dipastikan tetap membela Persib pada laga terakhirnya kontra Persisam Samarinda, Sabtu (20/2/10) ini.
Manajer Persib Umuh Muhtar mengucap banyak terima kasih kepada kiper asal Thailand tersebut. Menurutnya, kiprah Kosin begitu luar biasa bagi Maung Bandung. "Kemarin kita kehilangan Suchao. Sekarang Kosin harus menyusul Suchao ke negaranya. Ini amat menyedihkan, tapi kita rela," ungkap Umuh. "Tapi, syaratnya asal musim depan Kosin kembali ke sini," imbuh Umuh. Kosin memang berstatus pinjaman dari klub asalnya Chonbury FC. Kiper berwajah ganteng ini akan membela timnya pada kick off Liga Super Thailand awal Maret nanti. Untungnya, Persib sudah memiliki penggantinya yakni kiper timnas Indonesia Markus Horison. "Kota Bandung sudah jadi rumah kedua buat saya. Saya berjanji akan kembali ke sini," ujar Kosin.

Kedatangan Markus Horison ke Persib Bandung


P enjaga gawang tim nasional, Markus Horison, menyatakan bergabung dengan klub sebesar Persib Bandung menjadi kebanggaan tersendiri baginya setelah terdepak dari Arema Indonesia. Ia pun menyatakan kesiapannya membela Persib dan dijadwalkan hari ini menandatangani kontrak dengan manajemen Maung Bandung.

"Saya sudah pasti bergabung dengan Persib. Ini merupakan tantangan baru sekaligus kebanggaan. Saya siap memberikan kemampuan terbaik kepada Persib," katanya. Momentum kedatangan Markus ke Persib memang pas. Setelah mengundurkan diri dari Singo Udan karena berselisih dengan pelatih Arema, Robert Rene Albert, pemain dengan ciri khas kepala plontos itu harus segera mencari klub baru. Kebetulan, penjaga gawang utama Persib, Sinthaweechai Ha-thairattanakool, akan kembali ke Thailand karena masa pinjamannya dengan klub asalnya, Choinbury, akan berakhir pada 20 Februari 2010.

Markus mengakui akan menjadi tantangan tersendiri baginya untuk menggantikan Sinthaweechai, yang sangat diidolakan publik Bandung. Namun, sebagai penjaga gawang tim nasional, Markus juga menegaskan tidak akan ada masalah baginya untuk menjawab tantangan itu. "Saya siap menggantikan Sinthaweechai, akan saya tunjukkan bahwa saya juga bisa mendapat simpati pendukung Persib,"kata Markus.

Persib, menurut Markus, merupakan klub yang paling serius untuk mendapatkahnya. Karena itu, ia berjanji akan memberikan kemampuan terbaik untuk Maung sejak pertama kali bergabung. Pemain berusia 25 tahun ini juga menegaskan tidak akan mengalami masalah adaptasi meski putaran kedua sudah bergulir. Banyaknya pemain nasional yang menghuni Persib, menurut Markus, akan sangat membantunya dalam beradaptasi.

"Di sana ada Maman (Abdurachman), Nova (Ariyanto), Eka (Ramdhani), juga Hariono. Kami selama ini berlatih di tim nasional. Jadi tidak akan masalah dalam adaptasi," ujarnya. Meski sudah memastikan akan berbaju Persib, Markus enggan menyebutkan nilai kontraknya.

Selasa, 16 Februari 2010

Tentang Jaya Hartono ( Pelatih Persib Bandung )

Jika Persib sudah menjatuhkan pilihan pada Jaya, karena pilihan lain, Rahmad Darmawan masih betah di Sriwijaya FC, Persib jangan mundur lagi untuk cepat-cepat mengontraknya. Jaya Hartono memang belum pasti menangani Persib. Tapi jika melihat sinyal yang diberikan mantan pemain nasional ini, sepertinya dia tak keberatan untuk menangani tim kesayangan warga Jawa Barat. Jika jadi, Jaya akan berduet dengan manajer Manajer Persib, H Jaja Soetardja. Jaja sendiri pada Tribun Jabar, mengaku telah beberapa kali melakukan kontak dengan mantan salah satu winger terbaik yang pernah dimiliki Indonesia ini. Tak ada yang maragukan kehabatan Jaya baik saat jadi pemain, maupun pelatih. Jaya pernah membawa Persik menjadi juara. Hebatnya, saat itu si Macan Putih tak sedikit pun diperhitungkan. Promosi dari Divisi I, Persik langsung menggegerkan. Sebuah prestasi tersendiri bagi seorang pelatih. Jaya juga, meski tak bisa membawa Persiba menjadi juara, tapi lewat tangan dinginnya berhasil membawa tim itu masuk dalam jajaran elite. Juga, Deltras. Tim yang biasanya terseok-seok di papan bawah, musim kali ini, berhasil masuk ke delapan besar. Tentu saja itu berkat kejelian Jaya meramu pemain yang ada menjadi sebuah tim solid dan ditakuti. Perlu dicatat, Jaya tak melulu mengandalkan pemain bintang dalam meracik timnya. Bila melihat trek rekor Jaya, mudah-mudahan Persib tak salah menjatuhkan pilihan. Jajaran pengurus Persib memang harus jeli memilih pelatih. Jika tidak, Maung Bandung bisa tersandung untuk kesekian kalinya untuk mewujudkan target menjadi juara. Jika Persib sudah menjatuhkan pilihan pada Jaya, karena pilihan lain, Rahmad Darmawan masih betah di Sriwijaya FC, Persib jangan mundur lagi untuk cepat-cepat mengontraknya. Hampir pasti, Jaya akan dilirik tim-tim lain yang membutuhkan tenaga dan pikiran sahabat Heri Kiswanto ini. Dalam sebuah berita yang diturunkan Surya, koran di Surabaya, Jaya sudah tak kerasan lagi di Deltras. Surya menulis Jaya sudah ingin mencari suasana baru yang hanya bisa dia dapatkan di luar Deltras. Dan, Jaya pun telah merespon tawaran Persib. "Baru pembicaraan tahap awal. Belum ada negosiasi serius, misalnya soal nilai kontrak. Tapi saya gembira mendapat tawaran dari Persib. Dan saya siap melatih Persib," kata Jaya Hartono seperti
Demi Persib, Jaya sengaja menunda-nunda jawaban kepada beberapa klub yang juga ingin mengikatnya.

Tentang Suchao Nutnum & Kosin


Suchao
"Sedih Tinggalkan Persib dan Bobotoh"
SEPERTI hari-hari sebelumnya, usai sesi latihan pagi di Stadion Siliwangi Bandung, Senin (25/1), wajah Suchao Nuchnum memang terlihat berseri. Malah ia sempat bercanda dengan menendang bola kepada seorang fotografer, yang tengah berusaha mengambil gambarnya. Tentu saja, tidak bermaksud mengenai sang fotografer.

Ketika rekan-rekannya sesama pemain Persib "menghajar" Munadi dengan butiran telur, serbuk kopi, dan terigu karena tengah berulang tahun, Suchao pun tertawa lebar. Ia memang tidak turut "menyiksa" pemain termuda Persib itu, tapi tetap larut dalam kegembiraan rekan-rekannya di hari jadi Munadi.

Di luar lapangan, senyum kekanak-kanakan terus ditebarkan Suchao kepada orang-orang yang menyapanya. Meski peluh masih bercucuran, dengan ramah ia melayani permintaan foto bersama dari puluhan bobotoh yang hadir di Stadion Siliwangi.

Dari seorang bobotoh wanita yang duduk di atas kursi roda, gelandang timnas Thailand itu sempat mendapat sebuah suvenir berupa hiasan dinding. Setelah menyiapkan waktu khusus untuk berfoto bersama bobotoh bernama Windi itu, Suchao tidak lupa mengucapkan terima kasih atas suvenir yang baru saja diterimanya.

Namun di balik keceriaannya pagi itu, Suchao ternyata menyimpan kesedihan. "Saya sedih, karena sebentar lagi akan meninggalkan Persib," katanya kepada wartawan yang mengerubunginya. "Tanggal 29 Januari saya harus pulang ke Thailand," tambahnya.

Ya, masa kontrak peminjaman Suchao oleh Persib memang akan selesai akhir bulan ini. Laga melawan Persik Kediri di Stadion Si Jalak Harupat Soreang, Kab. Bandung, Selasa (26/1) ini akan menjadi partai terakhir buatnya.

"Meski hanya dua bulan setengah, banyak hal yang saya dapatkan di sini. Sambutan bobotoh, pemain, dan ofisial tim sangat mengesankan. Itu semua bakal sulit saya dapatkan di tempat lain. Terima kasih atas semua yang telah saya dapatkan di sini," katanya.

Sejak memulai debutnya pada saat menghadapi Pelita Jaya Karawang di Stadion Si Jalak Harupat, 21 November lalu, Suchao sudah 12 kali tampil bersama Persib. Sejak penampilan menawannya, plus satu gol yang disumbangkannya dalam laga tersebut, Suchao langsung menjadi idola bobotoh. Setiap kali usai menjalani latihan, ia selalu diburu para penggemarnya. Replika kostum bernomor punggung 15 juga laris manis di sentra-sentra penjualan aksesori Persib.

"Suporter di sini memang sangat luar biasa. Tapi saya belum tahu selebrasi macam apa yang akan saya lakukan usai pertandingan terakhir besok (hari ini, red). Satu hal yang pasti, saya akan berusaha mencetak gol untuk kemenangan Persib," katanya.

Diam-diam bobotoh tengah membuat kekuatan agar bisa menahan Suchao Nutnum untuk bertahan di Persib. Lewat gerakan facebookers, mereka membuat "1.000.000 Facebookers Mendukung Suchao Nutnum Dipertahankan". Hingga sore ini sudah ada 3,568 anggota.

Namuan usaha itu sepertinya sia-sia karena Suchao telah memutuskan untuk perigi meninggalkan Persib dan akan memperkuat Thailand Power Electric FC (TPE) selama tiga musim.

Kesedihan terpancar dari facebooker untuk melepas Suchao. Gebyy Sii Ladiesvikingpersib misalnya dia mencurahkan kesedihannya. Begini katanya, "GMAU KEHILANGAN SUCHAO NUCHUM [ Titik] =(." Lain lagi dengan facebooker pemilik akun Aldy 'Suchao' Ivanovic Suchao. Dia masih berharap Suchao bisa kembali lagi membela Persib. "Thanks for your dedication that you give to PERSIB....I hope soon or someday you'll be part of perrsib again in full condition of contact......." Suchao sendiri berjanji akan kembali bermain bersama Persib musim depan. "Musim depan jika manajemen TPE mau melepas saya, saya berjanji akan kembali ke Persib," janji Suchao yang diterjemahkan oleh Kosin. Suchao menegaskan bahwa Persib adalah rumah kedua baginya. Suport dan antusiasme dari bobotoh setiap Persib bertanding yang membuatnya ingin sekali kembali ke Persib suatu saat nanti. "Baru kali ini saya merasakan atmosfer sepak bola seperti di Persib. Saya ingin bermain lagi nanti di Persib," yang masih diterjemahkan oleh Kosin.

Asal Mula Perseteruan Viking vs The jack


Banyak yang tidak tahu dan bertanya, bagaimana sebenarnya permusuhan Viking dengan the jak bermula. Mengapa timbul rasa benci dalam benak masing-masing dari mereka. Hingga kini, keduanya masih saja berseteru. Bahkan semakin meruncing.

Penyebabnya sepele dan manusiawi, rasa iri. Iri hati dan sirik inilah yang membuat keduanya bermusuhan. Rentang waktu 1985 hingga 1995 adalah masa keemasan Persib. Sementara Viking yang berdiri tahun 1993 begitu setia mendukung klub kebanggaan warga Jawa Barat itu. Dimanapun Persib bermain, disana pasti ada Viking. Termasuk jika bermain di Jakarta. Semua menjadi lautan biru.

Inilah yang membuat anak muda ibukota iri. Selain kejayaan Persib kala itu, kesetiaan Viking membuat hati mereka panas. Saat itu muda-mudi betawi baru mampu membentuk kolompok kecil bernama Persija Fans Club. Walaupun begitu, kebesarkepalaan mereka sudah sangat menjadi. Hingga terjadilah insiden di stadion Menteng. Saat Persija menjamu Maung Bandung pada Liga Indonesia ke-2. Viking membirukan Ibukota dengan sekitar 9000 anggotanya. Sementara Persija Fans Club hanya berjumlah tak lebih dari 1000 orang. Rupanya bocah-bocah betawi itu tak rela kandangnya dikuasai supporter kota lain. Mereka pun membuat ulah. Seakan lupa jumlah mereka tak lebih dari 10% anak-anak Bandung. Hingga akhirnya, mereka mendapatkan akibatnya. Dengan kuantitas yang hanya satu tribun VIP, lemparan batu diarahkan Viking pada lokasi mereka menonton. Dan itu dilakukan Viking di Jakarta. Hal yang tidak berani dilakukan bocah Jakarta di Kota Kembang.

Singkat cerita, pada tahun 1997, muda-mudi ibukota ikut-ikutan membentuk perkumpulan supporter. Mereka menamakannya the jakmania.

Kebodohan the jak terekspos keseluruh negeri ketika mereka tak berdaya menghadapi Viking dalam kuis Siapa Berani. Kuis yang menguji wawasan dan kemampuan berpikir. Itu merupakan edisi khusus kuis Siapa Berani, edisi supporter sepak bola. Menghadirkan Viking, the jak, Pasoepati (Solo), Aremania, dan ASI (Asosiasi Suporter Indonesia). Pemenangnya, Viking. Perwakilan Viking berhasil melewati babak bonus dan berhak atas uang tunai 10 juta rupiah.

Seperti biasanya, rasa iri dari the jak muncul. Malu dikalahkan di kotanya sendiri, ketua the jak saat itu, Ferry Indra Syarif memukul Ali, seorang Viker yang menjadi pemenang kuis. Sungguh perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang ketua. Ketuanya saja begitu, apalagi anak buahnya?

Kejadian itu terjadi di kantin Indosiar, ketika dilangsungkannya acara pemberian hadiah. Kontan keributan sempat terjadi, namun berhasil diatasi.

Kesirikan the jak tak sampai disitu. Mereka menghadang rombongan Viking dalam perjalanan pulang menuju Bandung, tepatnya di pintu tol Tomang. Anak-anak Bandung yang berjumlah 60 orang pulang dengan menggunakan dua mobil Mitsubishi Colt milik Indosiar dan satu mobil Dalmas milik kepolisian. Ketiga mobil ini dihadang sebuah Carry abu-abu. Dua lolos, namun nahas bagi salah satu Mitsubishi Colt yang ditumpangi para anggota Viking. Mobil itu terperangkap gerombolan the jak. Kontan, mobil dirusak, Viking disiksa, dan uang para pendukung pangeran biru itu pun dijarah. Termasuk handphone dan dompet mereka.

Tercatat sembilan anggota Viking mengalami luka-luka. Tiga diantaranya terluka parah. Namun sayang, pihak kepolisian lamban dalam menyelesaikan kasus ini. Termasuk dalam menangkap the jak yang merampok dan menganiaya anggota Viking Persib Club.

Hingga saat ini perseteruan kedua kelompok supporter itu masih terus berlanjut. Viking, yang bersahabat karib dengan klub penggemar sepak bola lainnya ( Bonek, Sakera, Blue Devil, The Lobster, Persikmania, Kampak FC,dll. ) tidak akan pernah berbesar kepala. Viking akan menjaga persahabatan itu sampai kapanpun. Persija pun iri dan ingin menggoyahkan persahabatan ini. Tapi Persija tidak berhasil. Sampai kapanpun kita akan satu...olisian lamban dalam menyelesaikan kasus ini. Termasuk dalam menangkap the jak yang merampok dan menganiaya anggota Viking Persib Club.

Jejak Langkah Viking Persib Club


Melihat rangkaian sejarah perjalanan Viking Persib Club, maka para Vikers (anggotanya) akan selalu bercermin pada perjalanan Persib Bandung dalam mengarungi Samudra kompetisi sepakbola Indonesia, baik pada saat Kompetisi Perserikatan maupun pada saat Liga Indonesia. Berawal dari perjalanan prestasi “Sang Maung Bandung” yang begitu membanggakan dan menggetarkan dunia persepakbolaan Indonesia, khususnya pada dekade 1985 hingga dekade 1995, dimana Persib mampu memberikan suatu kebanggaan kepada para pencintanya, dengan tampil lima kali berturut-turut pada partai final Piala Presiden (Perserikatan kala itu), dan tiga kali diantaranya Persib berhasil tampil sebagai “Kampioen”, yang kemudian berlanjut dengan merebut gelar “Juara” untuk pertama kalinya pada kompetisi format baru, yaitu Liga Indonesia. “Totalitas” yang telah diberikan oleh Persib kepada para pencintanya, kemudian dijawab kembali dengan “Totalitas” oleh sekelompok Pendukung Fanatik Persib yang kala itu sering menempati Tribun Selatan Stadion Siliwangi. Tercetuslah ide untuk membentuk sebuah kelompok Bobotoh demi melestarikan dan menjaga kebesaran nama Persib, disamping untuk menyatukan aspirasi serta kesamaan rasa cinta kepada “Sang Idola” Persib Bandung.

Melalui beberapa kali pertemuan yang cukup alot dan memakan waktu, akhirnya terbentuklah sebuah kesepakatan bersama. Tepatnya pada Tanggal 17 Juli 1993, disebuah rumah dibahu jalan Kancra no. 34, diikrarkanlah sebuah kelompok Bobotoh dengan nama ….. VIKING PERSIB CLUB. Adapun pelopor dari pendiriannya antara lain ; Ayi Beutik, Heru Joko, Dodi “Pesa” Rokhdian, Hendra Bule, dan Aris Primat dengan dihadiri oleh beberapa Pioner Viking Persib Club lainnya, yang hingga kini masih tetap aktif dalam kepengurusan Viking Persib Club.

Nama VIKING diambil dari nama sebuah suku bangsa yang mendiami kawasan skandinavia di Eropa Utara. Suku bangsa tersebut dikenal dengan sifat yang keras, berani, gigih, solid, patriotis, berjiwa penakluk, pantang menyerah, serta senang menjelajah. Karakter dan semangat itulah yang mendasari “Pengadopsian” nama VIKING kedalam nama kelompok yang telah dibentuk.

Secara demonstratif, Viking Persib Club pertama kali mulai menunjukan eksistensinya pada Liga Indonesia I -- tahun 1993, yang digemborkan sebagai kompetisi semi professional pertama di Tanah Air kita. Slogan “PERSIB SANG PENAKLUK” begitu dominan terlihat pada salah satu atribut yang dipakai anggotanya.

Perjalanan waktu, kebersamaan, hubungan pertemanan, serta kesamaan rasa cinta yang telah terbina, pada akhirnya telah menjadikan Viking Persib Club sanggup bertahan hingga saat ini, bahkan semakin berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah nusantara.

Idealisme Viking Persib Club

Viking Persib Club adalah sebuah kelompok bukanlah organisasi atau fans club dengan segala aturan-aturan formal yang mengikatnya. Setiap anggota atau Vikers adalah bagian dari sebuah “Keluarga”, …. Dan layaknya sebuah Keluarga, keberagaman sifat dan tingkah laku yang berada didalamnya adalah merupakan sesuatu hal yang lumrah, dan Viking akan selalu berusaha untuk mengakomodir keberagaman tersebut.

Kelompok Suporter dapat dikatakan sebagai kelompok sosial, karena didalamnya terdapat sekumpulan individu yang berinteraksi secara bersama-sama serta memiliki kesadaran keanggotaan yang didasarkan oleh kehendak dan prilaku yang disepakati. Seperti kebanyakan kelompok-kelompok Bobotoh lainnya yang turut terlahir sama seperti halnya Viking Persib Club, yaitu secara Grass Root (dari arus bawah), maka Viking Persib Club memiliki cara atau cirri khas dalam menyikapi setiap permasalahan anggotanya. Hubungan pertemanan dan kekeluargaan yang tulus, erat tanpa pamrih serta rasa persaudaraan yang tinggi menjadi modal yang kuat bagi VIKING untuk terus eksis selama beberapa dekade.

Keanggotaan Viking Persib Club yang semakin besar, jelas menuntut sebuah tanggung jawab serta pengaturan yang sedemikian rupa secara professional, agar dapat lebih terukur dari segi pendataan, keuangan, rutinitas maupun manajerial, yang tentu saja membawa dampak tanggung jawab yang sangat besar bagi kepengurusan Viking Persib Club. Namun tentu saja semua formalitas tersebut tidak akan menghilangkan warna, ciri khas serta karakter Viking Persib Club. “Viking tetaplah Viking! Dia harus bercirikan kedekatan yang tulus antar anggotanya dan berkarakter sebagai sebuah keluarga ataupun geng”

Viking Persib Club murni lahir secara independen berdasarkan inisiatif dari para Bobotoh dari golongan grass root. Dalam pandangan Viking, supporter tidak hanya berperan sebagai “tukang sorak” saat menyaksikan dan mendukung kesebelasan kesayangannya, tetapi peran supporter harus lebih dari itu! Dia harus menjadi pembangkit semangat saat tim kesayangannya jatuh bangun menunaikan tugasnya dilapangan. Supporter juga harus menjadi kekuatan tambahan bagi para pemain dilapangan, …… intinya, supporter harus menjadi pemain ke-12! Dan VIKING ingin menjadi pemain ke-12 bagi PERSIB.

Pada saat ini, …… ketika sepakbola sudah menjadi industri, Peranan Bobotoh buat PERSIB pun menjadi berkembang tidak hanya sebagai objek pelengkap saja. Bobotoh seharusnya menjadi bagian dari prestasi dan keberhasilan yang dicapai oleh PERSIB. Berangkat dari sana, ….. Viking Persib Club pun mulai mengembangkan sayapnya dalam berbagai bentuk aktualisasi diri, mulai dari peningkatan pengkoordiniran massa dengan dibentuknya “distrik” di berbagai wilayah pada kantung-kantung Bobotoh, Penjualan Merchandise, pembuatan album kompilasi Persib, hingga tour organizer yang menyelenggarakan pemberangkatan rombongan Bobotoh ketika mendukung PERSIB apabila bermain tandang.

Kepemimpinan & Kepengurusan Viking Persib Club

Sejak awal berdirinya hingga saat ini, ….. Viking Persib Club diketuai oleh Heru Joko, dengan Panglima --- Ayi Beutik. Pertanyaan yang muncul, ……. Mengapa harus ada figur panglima? Jawabannya singkat saja, karena Bobotoh terikat secara emosional, dan mereka mengikatkan diri kepada PERSIB dan juga kepada sesama pendukung Persib. Kata Panglima disini adalah sosok “Ibu” dalam keluarga, pengasuh bagi anak-anaknya, sosok yang memimpin serta melindungi para anggota apabila terjadi sesuatu dilapangan. Sedangkan jabatan Ketua Umum yang disandang Heru Joko, adalah sebagai figure kharismatik yang memiliki fungsi politis keluar organisasi atau kelompok lain. Lain halnya dengan Yoedi Baduy yang menjabat sebagai Sekretaris Umum, ia mengelola dan mengkoordinir segala bentuk kegiatan secara administratif. Bisa dikatakan ketiganya adalah pemimpin atau leader Viking Persib Club, yang tentu saja ditopang oleh pentolan-pentolan Viking Persib Club yang lainnya, seperti ; Yana Ewok, Asep “Ucok”, Yana Bool (Mr. Y), Dadan Gareng, Boseng, Odoy, Pesa dan Hendra Bule.

Dan yang tak kalah pentingnya lagi, …… kontribusi Distrik-distrik Viking Persib Club yang saat ini sudah tersebar diberbagai wilayah , seolah menjadi elemen penting lainnya bagi pendobrak berkembangnya Viking Persib Club dewasa ini. ***

Sejarah PERSIB Bandung


Sebelum bernama Persib, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot. Atot ini pulalah yang tercatat sebagai Komisaris daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega didepan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan diluar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara Jakarta. Pada tanggal 19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB (Persebaya), MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. BIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh Mr. Syamsuddin. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. BIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1933 meski kalah dari VIJ Jakarta. BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub- klub yang bergabung kedalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi. Persib kembali masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1934, dan kembali kalah dari VIJ Jakarta. Dua tahun kemudian Persib kembali masuk final dan menderita kekalahan dari Persis Solo. Baru pada tahun 1937, Persib berhasil menjadi juara kompetisi setelah di final membalas kekalahan atas Persis. Di Bandung pada masa itu juga sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang- orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah- olah Persib merupakan perkumpulan "kelas dua". VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan- pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib dilakukan di pinggiran Bandung—ketika itu—seperti Tegallega dan Ciroyom. Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang didalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan di pusat kota, UNI dan SIDOLIG. Persib memenangkan "perang dingin" dan menjadi perkumpulan sepakbola satu-satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang tadinya bernaung dibawah VBBO seperti UNI dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO (sempat berganti menjadi PSBS sebagai suatu strategi) kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan Lapangan SPARTA (kini Stadion Siliwangi). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung. Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang. Kegiatan persepakbolaan yang dinaungi organisasi lam dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga di seluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai. Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun. Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar di berbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta. Pada masa itu prajurit-prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta. Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya. Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda (NICA) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi. Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, decade 1950-an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953-1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah-pindah sekretariat. Walikota Bandung saat itu R. Enoch, membangun Sekretariat Persib di Cilentah. Sebelum akhirnya atas upaya R. Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat Persib yang sampai sekarang berada di Jalan Gurame. Pada masa itu, reputasi Persib sebagai salah satu jawara kompetisi perserikatan mulai dibangun. Selama kompetisi perserikatan, Persib tercatat pernah menjadi juara sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1961, 1986, 1990, dan pada kompetisi terakhir pada tahun 1994. Selain itu Persib berhasil menjadi tim peringkat kedua pada tahun 1950, 1959, 1966, 1983, dan 1985. Keperkasaan tim Persib yang dikomandoi Robby Darwis pada kompetisi perserikatan terakhir terus berlanjut dengan keberhasilan mereka merengkuh juara Liga Indonesia pertama pada tahun 1995. Persib yang saat itu tidak diperkuat pemain asing berhasil menembus dominasi tim tim eks galatama yang merajai babak penyisihan dan menempatkan tujuh tim di babak delapan besar. Persib akhirnya tampil menjadi juara setelah mengalahkan Petrokimia Putra melalui gol yang diciptakan oleh Sutiono Lamso pada menit ke-76. Sayangnya setelah juara, prestasi Persib cenderung menurun. Puncaknya terjadi saat mereka hampir saja terdegradasi ke Divisi I pada tahun 2003. Beruntung, melalui drama babak playoff, tim berkostum biru-biru ini berhasil bertahan di Divisi Utama. Sebagai tim yang dikenal tangguh, Persib juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik yunior maupun senior. Sederet nama seperti Risnandar Soendoro, Nandar Iskandar, Adeng Hudaya, Heri Kiswanto, Adjat Sudradjat, Yusuf Bachtiar, Dadang Kurnia, Robby Darwis, Budiman, Nuralim, Yaris Riyadi hingga generasi Erik Setiawan merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persib.

Sabtu, 13 Februari 2010

Jadwal PERSIB Bandung putaran ke 2


Salasa 9 Feb 2010, Persik vs PERSIB
Minggu 14 Feb 2010, Persebaya vs PERSIB
Sabtu 20 Feb 2010, PERSIB vs Persisam –> live 19.00
Kamis 11 Mar 2010, PERSIB vs Bontang FC –> Live 15.30
Minggu 14 Mar 2010, PERSIB vs Arema –> live 19.00
Rabu 17 Mar 2010, PERSIB vs Persema –> Live 15.30
Minggu 21 Mar 2010, PSPS vs PERSIB –> Live 15.30
Kamis 25 Mar 2010, Persija vs PERSIB –> live 16.00
Minggu 4 Apr 2010, Persela vs PERSIB –> live 19.00
Sabtu 10 Apr 2010, Persijap vs PERSIB –> live 19.00
Sabtu 24 Apr 2010, Pelita Jaya vs PERSIB –> live 19.00
Rabu 28 Apr 2010, Persitara vs PERSIB –> Live 15.30
Minggu 2 Mei 2010, PERSIB vs Persipura –> live 19.00
Kamis 6 Mei 2010, PERSIB vs Persiwa –> Live 15.30
Minggu 16 Mei 2010, PERSIB vs Sriwijaya FC –> live 19.00
Rabu 26 Mei 2010, PERSIB vs Persiba –> Tidak Disiarkan
Minggu 30 Mei 2010, PERSIB vs PSM –> Tidak Disiarkan

Jadwal masih bisa berubah, tergantung situasi kondisi. . . .

Apabila Stadion Sijalak Harupat akan direnovasi, maka pertandingan akan dilaksanakan di stadion Siliwangi Bandung